Sebagai warga negara Indonesia tentu
tidak asing lagi kita dengan istilah Pancasila. Ya, pancasila adalah dasar
negara dari Indonesia. Pancasila merupakan sebuah fundamen yang dimiliki oleh
Indonesia sebagai tuntunan dan kaidah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
di Indonesia. Pancasila yang sudah disusun sedemikian rupa menjadi dasar
pembangun atau pondasi dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia. Pancasila juga dapat sebagai pengontrol dalam setiap tindakan yang
kita perbuat.
Belajar memahami Pancasila secara
mendalam sangatlah penting. Tidak akan bisa kita menjadi warga negara yang baik
tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung dalam sila- sila Pancasila. Perlu pendekatan secara menyeluruh kedalam
aspek sila-sila Pancasila. Karena setiap sila yang ada dalam Pancasila tentunya
tidak lahir tanpa makna. Bukan sekedar poin-poin kosong belaka, bukan sekedar
susunan kalimat yang indah. Melainkan sila-sila Pancasila merupakan sebuah
filosofi, sebuah penjabaran, dan sebuah pengajaran yang kompleks bagi setiap
warga negara Indonesia. Sehigga sangat perlu kita sebagai warga negara yang
cinta akan bangsa ini belajar mengenai Pancasila
Mahasiswa sebagai calon - calon
pemimpin dan penerus cita-cita bangsa, juga sebagai agent of change sangatlah penting bisa memahami nilai-nilai dalam
Pancasila. Mahasiswa yang sejatinya adalah seorang pemuda bangsa sudah
kebanyakan memiliki sikap yang cenderung kurang peduli terhadap lingkungan
sendiri atau bahkan lingkungan bernegara. Mahasiswa cenderung egois dan
bertindak semaunya tanpa memikirkan pengaruh yang akan terjadi setelahnya. Hal
- hal negatif yang timbul pada diri pemuda tersebut dapat dikikis dengan
penanaman dan pemahaman nilai - nilai moral Pancasila.
Pancasila merupakan sebuah ideologi
yang kuat. Para pendiri bangsa menyusun Pancasila untuk menjadi dasar mencapai
cita - cita bangsa. Ir. Soekarno sang pencetus nama Pancasila juga tidak
sembarangan dalam memilih nama “Pancasila”. “Panca” yang berarti lima dan
“sila” yang berarti poin atau pokok. Sila - sila yang ada dalam Pancasila
begitu mencerminkan kehidupan dan keadaan bangsa. Sila - sila Pancasila sangat
sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang beragam dan mengutamakan
semangat persatuan dalam segala aspek kehidupan apa pun. Seperti yang
ditawarkan Soekarno di pidato 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI yang pertama,
apabila Pancasila terlalu banyak, maka ditawarkan ekasila yaitu Gotong Royong.
Gotong Royong adalah semangat kebersamaan dan persatuan dalam menjalankan suatu
tindakan. Gotong Royong inilah inti dari Pancasila. Semangat kebersamaan dan persatuan
untuk menjadikan Indonesia negara yang besar dan kuat. Semangat kebersamaan dan
persatuan pula yang menjadikan Pancasila semakin kuat sebagai ideologi negara
Indonesia.
Namun seiring berjalannya waktu dan
semakin tumbuhnya negara ini dari awal mula merdeka, Pancasila mulai mendapat
tantangan dan goyangan dari beberapa pihak yang ingin melunturkan dan
merobohkan nilai - nilai Pancasila. Bahkan terdapat beberapa golongan yang
ingin menggulingkan Pancasila dan mengganti dengan ideologi yang sesuai dengan kehendaknya. Tantangan
tidak sampai disitu, ada juga beberapa golongan yang menyalah gunakan Pancasila
sehingga pelaksanaan Pancasila tidak sesuai dengan semestinya. Penyimpangan -
penyimpangan pun marak terjadi.
Diawal kemerdekaan Pancasila sudah mulai
diuji kekuatannya. Mulai dari peristiwa PKI Madiun yang ingin mengganti dasar
negara Pancasila dengan ideologi komunis. Kemudian juga muncul pemberontakan -
pemberontakan yang juga punya tujuan sama yakni mengganti ideologi Pancasila
dengan ideologi yang mereka kehendaki. Seperti pemberontakan DI/TII berbagai daerah di Indonesia seperti di
Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selantan. Ada
juga pemberontakan PRRI dan Permesta. Semua punya niatan sama yaitu ingin
meruntuhkan Pancasila.
Di era orde lama Pancasila pun tidak
lepas dari goncangan - goncangan dan tantangan - tantangan. Berbagai permasalahan mengenai persatuan dan
kesatuan, ekonomi yang labil yang berakibat inflasi, pemerintahan yang condong
ke arah komunis atau blok timur dan berbagai masalah lainnya seakan menjadi
ujian untuk Pancasila tetap bertahan. Sebagai puncaknya adalah meletusnya
gerakan 30 September tahun 1965. PKI lah yang dianggap sebagai pelaku utama
aksi tersebut. Membunuh jenderal - jenderal besar TNI kala itu, seakan
mengultimatum Indonesia untuk beralih dari ideologi awal yakni Pancasila
menjadi ideologi komunis. Indonesiapun
dalam keadaan genting saat itu. Namun Pancasila tetaplah kuat hingga PKI gagal
mengubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis, yang kemudian dikenal
dengan “Kesaktian Pancasila”.
Setelah berakhirnya peristiwa
tersebut ditumpaslah segala unsur - unsur PKI. Mulai dari pejabat pemerintahan
hingga masyarakat sipil yang dituduh komunis semua dibersihkan. Soeharto tampil sebagai “pahlawan” yang
memberantas unsur - unsur PKI tersebut. Situasi politik yang masih belum stabil
dan berkurangnya kepercayaan rakyat terhadap Soekarno ditambah lagi dengan nama
baik Soeharto menumpas PKI sekan memuluskan jalan Soeharto untuk menjadi penguasa
baru Indonesia. Hingga akhirnya berakhirlah rezim Soekarno dan berganti dengan
rezim baru dimana Soeharto sebagai pemimpinnya.
Di era orde baru pembangunan
berlangsung dengan pesat. Kemajuan di berbagai bidang menjadi prestasi yang
sangat mengagumkan. Ekonomi tumbuh semakin sehat dan bahkan Indonesia mendapat
julukan macan asia karena pertumbuhan ekonominya yang begitu pesat. Namun di
tengah kemajuan negara Indonesia, terdapat penyelewengan - penyelewengan nilai
Pancasila yang terdapat di dalamnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah adanya
unsur kediktatoran yang dilakukan oleh pemimpin rezim orde baru yakni Soeharto.
Dengan mengatas namakan Pancasila
setiap orang yang menentang dengannya dianggap bertentangan dengan Pancasila
dan wajib untuk “dibereskan”. Secara
tidak langsung rakyat diharuskan untuk tunduk sepenuhnya terhadap Soeharto.
Rakyat menjadi terkekang tidak bisa bebas berpendapat dan berkarya. Rakyat
diliputi rasa kecemasan dan ketakutan apabila mereka salah dalam berbicara
sekalipun dalam lingkungan yang kecil. Kebebasan berpendapat yang menjadi hak
setiap warga negara menjadi berkurang atau bahkan hilang. Hingga memunculkan
budaya baru “asal bapak senang” yang berarti hanya mengharapkan pujian dari
atasan semata. Hal - hal tersebut sangat
bertentangan dengan sila kedua Pancasila yang menjunjung tinggi keadilan bagi
setiap warga negara.
Situasi politik pun tidak lepas dari
kediktatoran sang penguasa. Pejabat pemerintahan hingga perwakilan rakyat di
parlemen hampir di dominasi oleh orang - orang dari partai yang sama, dimana
Soeharto yang menjadi ketua partai tersebut. Itu terjadi karena partai terebut
selalu menang di setiap pemilu. Cukup janggal memang selama hampir 32 tahun
pemilu dimenangkan oleh satu partai saja yaitu partai milik Soeharto. Demokrasi
seakan tidak tampak batang hidungnya. Demokrasi hilang entah kemana karena
sejatinya keputusan ada di tangan Soeharto sendiri. Sila keempat dari Pancasila
yang jelas jelas menjunjung tinggi demokrasi seakan menjadi sebuah simbol
belaka.
Krisis ekonomi berkepanjangan
melanda Indonesia. Mahasiswa melakukan demo besar - besaran menuntut adanya
reformasi. Sudah cukup Soeharto memerintah negeri ini dan perbaikan ekonomi
harus dilakukan. Itulah tuntutan mahasiswa yang melakukan demo dimana-mana
untuk menyeru Soeharto turun dari jabatannya dan diadakannya reformasi.
Soeharto menyerah, dan akhirnya rezim orde baru runtuh setalah 32 tahun
berkuasa dengan segala prestasi dan penyimpangan - penyimpangan nilai Pancasila
yang dilakukannya. Hingga lahirlah sebuah masa yang baru yaitu masa Reformasi.
Reformasi yang berlangsung hingga
saat ini bukannya tanpa hambatan dan rintangan. Semangat Pancasila yang benar
yang coba dihidupkan kembali menghadapi berbagai tantangan. Dari beberapa
daerah yang ingin mendirikan negara sendiri seperti Timor Timur, Gerakan Aceh
Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan Gerakan Papua Merdeka. Sebuah
cambuk bagi negri ini ketika Timor Timur akhirnya lepas dan menjadi sebuah
negara bernama Timor Leste. Persatuan dan kesatuan menjadi perhatian yang
serius yang dilakukan oleh pemerintah setelah lepasnya Timor Timur. Masalah HAM
juga menjadi perhatian serius dalam menghidupkan semangat Pancasila kembali.
Karena HAM masih belum bisa dikatakan aman dan terjamin. Karena keinginan
tertentu sebuah golongan hingga tega merenggut hak seseorang lainnya. Sebagai
contoh kasus adalah terbunuhnya aktivis HAM yaitu Munir, yang dengan lantang
membela hak - hak setiap warga, yang sampai sekarang kasusnya belum terkuak
secara tuntas.
Di era modern seperti saat ini, tantangan
akan ideologi Pancasila datang tidak hanya dari dalam negeri sendiri melainkan
juga dari luar negeri. Kemajuan teknologi yang sangat pesat dan arus
globalisasi yang semakin kencang membuat berbagai informasi masuk dengan mudah
ke Indonesia. PKI sudah bubar dan habis. Halauan komunispun juga sudah tidak
terdengar di Indonesia. Rezim diktator juga telah berakhir. Kini tantangan
untuk Pancasila adalah arus globalisasi yang juga ikut menggerogoti mental dan
pemikiran rakyat Indonesia.
Globalisasi yang kian meluas jika
tidak dikendalikan bisa jadi mengancam setiap sila yang ada dalam Pancasila.
Globalisasi pula yang bisa jadi menjadi penyebab merosotnya moral bangsa ini
sehingga semakin menyimpang nilai - nilai Pancasila. Semangat Pancasila yang
mencoba ditumbuhkan kembali selepas reformasi dijalankan menjadi susut kembali
akibat berbagai konfrontasi tidak langsung dari dunia luar. Berbagai fenomena
dan kejadian yang diluar nilai - nilai Pancasila marak terjadi. Budaya kebersamaan,
persatuan, dan kesatuan terkikis.
Berbagai konflik agama bermunculan.
Dari serangan teroris yang mengatas namakan agama hingga pembakaran tempat
ibadah. Ledekan sana sini dengan berbau SARA di dunia nyata maupun dunia maya
seakan menjadi jamur dimusim penghujan. Pembicaraan masalah agama menjadi
sesuatu yang sangat rentan untuk dibicarakan. Perdebatan mengenai siapa yang
paling benar menjadi hal yang terelakkan. Toleransi hanya menjadi sebuah kata
tanpa adanya pelaksanaan yang nyata. Hal - hal tersebut sangat mempengaruhi
pemikiran masyarakat dan berujung pada perpecahan dan hilangnya semangat
persatuan. Padahal sudah jelas Indonesia merupakan sebuah negara yang beragama,
mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan mengakui adanya 6 kepercayaan yang
dianut oleh masyarakatnya.
Di ranah pemerintahan pejabat
menjadi semena-mena terhadap rakyatnya sendiri. Hanya mengobral janji ketika
pemilihan dan sibuk menghabiskan uang rakyat untuk dirinya sendiri ketika sudah
terpilih, sudah menjadi hal yang sangat sering terjadi. Sungguh miris memang
melihat nasib rakyat kecil yang digantungkan kepada wakil-wakil di
pemerintahan, tetapi malah disalahgunakan tanggung jawab tersebut untuk sekedar
memuaskan hasrat duniawi para wakil rakyat tersebut. Pantaskah kita menaruh
kepercayaan kepada mereka para wakil rakyat yang memperjuangkan asa kita dalam
tidur mereka ketika sidang. Pembangunan
hanya terpusat di satu daerah dengan catatan mereka yang berduitlah yang
bisa merasakan nikmatnya pembangunan. Sulit mencari letak keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia dengan keadaan yang seperti ini. Yang kaya semakin
kaya yang miskin semakin miskin.
Pesta demokrasi yang menjadi ajang
kesempatan seluruh rakyat Indonesia bersuara secara langsung juga terciderai
oleh ulah oknum - oknum atau golongan tertentu yang haus akan kekuasaan. Banyak
orang yang menjadi gila kekuasaan, dan terkadang hanya bermodalkan eksistensi
(terkenal) dan uang tanpa mempunyai
kapasitas dan elektabilitas, maju menjadi anggota dewan atau sebagai kepala
daerah. Suara rakyatpun dibeli, bahkan sampai penyelenggara pemilu bisa dibeli.
Sedangkan untuk warga di daerah terpencil demokrasi tidak mempunyai makna
apa-apa. Sudah banyak terjadi di daerah terpencil surat suara belum sampai
ditangan hasil sudah bisa dutentukan. Artinya suara masyarakat disana
terwakilkan dengan paksa dan tidak sesuai kehendak hatinya. Demokrasi seperti
inilah faktanya yang terjadi di Indonesia walaupun tidak terjadi di semua
daerah di Indonesia.
Para pemuda bangsa juga semakin
terkikis semangat kebangsaan. Penanaman nilai - nilai Pancasila yang minim
ditambah pengaruh budaya luar yang masuk tanpa bisa dibendung membuat para
pemuda kehilangan rasa nasionalismenya. Para pemuda lebih bangga dengan
pergaulan ala barat, mendengarkan musik - musik dari luar negri, bangga
menggunakan barang luar negri, bergaya hiup hedon. Para pemuda juga menjadi
bersifat egois dan kurang peka terhadap keadaan sekitar. Terlalu sibuk dengan
dunia maya nya sehingga membutakan akan dunia nyata yang ada disekelilingnya. Padahal
sejatinya ditangan pemudalah nasib negara ini bergantung. Ditanga para pelajar
dan mahasiswa negara ini akan mencapai kemajuan yang luar biasa. Namun apalah
daya semangat Pancasila yang harusnya dimiliki setiap pemuda bangsa justru
semakin hilang. Nilai - nilai Pancasila tergeser dengan hukum “yang penting aku
senang”.
Hal-hal di atas sudah cukup
menggambarkan betapa nilai - nilai dalam Pancasila sudah mulai tergeser dengan
keadaan zaman yang semakin maju yang mirisnya melunturkan semangat Pancasila
yang dimiliki oleh pendiri bangsa. Penyimpangan - penyimpangan yang terjadi
bukan hanya karena sifat - sifat buruk seseorang yang kebanyakan menginginkan
kekuasaan, tetapi juga karena kurangnya pemahaman secara mendalam mengenai
nilai - nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila.
Namun tidak bisa sepenuhnya
menyalahkan setiap pribadi akan hal ini. Pendidikan penanaman nilai - nilai
Pancasila sangat kurang diterima dalam kehidupan sehari - hari. Penanaman
mengenai Pancasila hanya diterima melalui bangku sekolah dan dengan alokasi
waktu yang sangat minim pula. Parahnya penanaman Pancasila berhenti ketika
mentas dari bangku sekolah. Hal ini sangat fatal karena akan membuat semacam
anggapan bahwa pendidikan penanaman nilai-nilai Pancasila tidak berguna.
Sehingga selepas dari bangku sekolah nilai - nilai Pancasila tidak tertanam
kuat dan tidak menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Pemerintah sebagai penguasa dan yang
mengatur setiap keadaan di negara ini seharusnya bisa menciptakan sebuah sistem
yang dimana menanamkan nilai - nilai Pancasila dalam setiap segi aspek
kehidupan. Penanaman dapat dimulai sejak dini hingga seseorang tersebut menjadi
tua sekalipun tanpa terkeculali. Memberikan waktu lebih di sekolah untuk
membahas secara mendalam poin-poin dan nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila.
Tidak hanya di sekolah, pemerintah juga dapat memanfaatkan kemajuan teknologi
untuk sesuatu yang positif yaitu secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai
dari sila Pancasila secar rutin dan intens. Begitu juga di perkantoran,
diadakan progam yang intinya menumbuhkan semangat Pancasila, menanamkan
nilai-nilai setiap sila Pancasila dan dapat mengaplikasikannya di dunia kerja
sesuai dengan bidangnya. Dengan
memasukkan unsur Pancasila disetiap segi aspek kehidupan maka dengan sendirinya
rasa semangat dan nasionalisme Pancasila akan tumbuh kuat pada diri seseorang.
Apabila sudah tumbuh nilai-nilai dan
semangat Pancasila, maka bangsa ini akan mampu menjadi bangsa yang besar dan
kuat dengan budaya khasnya yakni gotong royong, dan mampu untuk berjalan menuju
cita-cita bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar